Wanita mana yang tidak memimpikan hadirnya seorang pendamping
yang lemah lembut dan penuh kasih sayang dalam mengarungi bahtera cinta
dalam rumah tangganya. Dinaungi sejuknya ‘ilmu syar’iy, manisnya iman
disebabkan mencintai karena Allooh Ta’ala dan melewati hari-hari bersama
suaminya dengan canda tawa dan snyum bahagia. Sungguh semua wanita di
dunia, tak terkecuali wanita kafirpun akan merindukan suasana rumah
tangga yang demikian.
Namun Allooh Ta’ala telah menetapkan
jodoh masing-masing manusia, seorang wanita tidak bisa memilih bahwa
dia akan menjadi bagian dari tulang rusuk seorang lelaki yang lembut dan
penyayang, namun hendaknya wanita tadi selalu meyakini bahwa jodoh yang
telah diberikan Allooh Ta’ala kepadanya adalah jodoh yang terbaik dan
paling bermanfaat bagi dirinya. Maka hendaknya dengan menunggu datangnya
pemilik tulang rusuk tadi untuk mengkhitbah dirimu, hendaknya seorang
wanita yang masih lajang berusaha memperbanyak menuntut ‘ilmu syar’iy
dan berusaha menjadi seorang wanita yang sholihah, karena kelak ia akan
menjadi sebaik-baik perhiasan rumah tangga suaminya.
Dari
Abdulloh bin ‘Amru rodhiyalloohu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik
perhiasan dunia adalah istri yang sholihah.” [HR. Ibnu Hibban, no. 4033]
Maka
dengan berbekal kesholihah-annya seorang wanita akan mampu mengarungi
rumah tangga dengan seorang suami yang memiliki temperamen apapun, baik
lemah lembut atau yang pemarah, tentunya seorang suami tersebut adalah
ahlus sunnah yang memiliki manhaj yang lurus yang mengikuti jejak
salafush sholih dalam agamanya. Namun hendaknya seorang wanita memahami
bahwa lelaki itu memiliki watak yang berbeda-beda, ada yang kasar,
pemarah, mudah tersinggung dan tegas dalam rumah tangganya, dan ada pula
yang lembut, perhatian dan penuh kasih sayang.
Jika
mendapatkan seorang suami yang lembut dan perhatian maka biasanya tidak
banyak masalah yang terjadi, namun ketika Allooh Ta’ala mentakdirkan
calon suami anda adalah seorang yang terperamen emosinya mudah naik dan
berkata-kata kasar, padahal sifat dasarnya adalah penyayang dan lembut,
namun kadang karena sesuatu hal dia mudah marah dan emosi, maka
hendaknya sang istri dengan berbekal ‘ilmu syar’iy dan kecerdasannya
mampu mengatasi itu semua, dan menggunakan emosi suaminya sebagai
senjata terbaik dirinya untuk mendapatkan kasih sayang lebih dari
suaminya. Mampukah itu dilakukan???
Mampukah merubah
kemarahan dan emosi suami menjadi senjata ampuh yang berbalik
menguntungkan sang istri dan membuat suami lebih mencintai istri,
sehingga suami membuat bait-bait sya’ir cinta untuk sang istri?
Sepertinya memang sangat sulit dilakukan, bahkan penulis pernah
mendapatkan kata-kata dari seorang ustadzah muda yang sedang ta’aruf dan
mengetahui calon suaminya (yang menurut pengakuannya) adalah seorang
pemarah, dia sendiri mengatakan, “Jika calon suami ana seorang pemarah,
dan ana juga punya temperamen pemarah, bisa setiap hari nanti perang
kalau sudah menikah!
Memang tidak mudah wahai saudariku,
namun pahamilah bahwa semua itu bisa dilakukan, jika engkau benar
memahami ‘ilmu syar’iy dan berniat kuat serta bersungguh-sungguh untuk
menyusun sebuah rumah tangga yang sakinah. Lalu apa rahasianya ketika
suami-istri menjumpai permasalahan yang demikian? Ketika sang suami suka
marah dan sering marah-marah akan suatu hal yang kecil, mampukan semua
sifat itu berubah dengan kecerdasan sang istri, tentunya dengan do’a
yang baik kepada Allooh Ta’ala, bagi pemimpin rumah tangganya itu. Maka
aku menjawabnya, “InsyaAllooh engkau mampu untuk melewati itu semua!
Berbaik sangkalah kepada Allooh Ta’ala jika memang dia adalah jodohmu!”
Rahasia itu…
Ketika
suami anda marah, dan dia seorang lelaki yang mudah emosi, hendaknya
anda wahai para istri, mencari perlindungan dengan berdiam diri dan
tetap diam di ahdapan suami anda yang sedang marah dengan penuh
penghormatan dan menerima setiap kata-katanya, namun jangan sekali-kali
berdiam diri dengan diiringi pandangan penghinaan, mengejek, atau
pandangan marah meski hanya dengan kedipan mata. Karena suami anda
adalah seorang suami yang cerdas dan sangat memahami anda. Maka
hendaknya engkau tetap diam dengan ketaatan dan pancaran mata menyesal
serta kasih sayang dihadapannya, terlepas engkau meyakini bahwa dirimu
benar atau tidak. Hendaknya engkau tetap diam dihadapannya dan jangan
membantah sedikitpun perkataannya.
Janganlah engkau keluar
dari tempatmu berdiam, karena suami anda akan menduga bahwa anda
melarikan diri dan tidak ingin mendengarkan perkataannya, maka dia akan
semakin membenci anda dan semakin besar berkobar amarahnya. Maka anda
harus tetap diam, sambil menyetujui perkataannya sampai dia lelah
kehabisan kata dan merasa lebih tenang. Baru kemudian anda sampaikan
kepada suami anda, “Apakah saya dizinkan untuk keluar?”
Jika
suami anda tidak mengizinkan anda keluar, maka tetaplah berada dalam
posisi anda dan jangan membantahnya, namun jika anda diizinkan keluar,
maka keluarlah anda dari posisi tadi dan biarkan suami anda beristirahat
sejenak, karena suami anda lelah dan memerlukan istirahat setelah
banyak berbicara dan berteriak. Hendaknya anda tetap melanjutkan
pekerjaan rumah anda serta mengurus anak-anak, dan biarkan suami anda
terdiam dan menerungi setiap perkataannya dalam kondisi “sudah
menuntaskan peperangan yang diluncurkan kepada anda…”
Selain
itu janganlah anda memboikot suami anda dengan tidak mengajaknya
berbicara, jangan lakukan hal itu! Itu adalah kebiasaan buruk, juga
senjata yang memiliki dua mata yang sangat tajam. Ketika anda wahai para
istri memboikot suami anda selama seminggu misalnya, bisa jadi pertama
kalinya suami anda akan sedikit mendapat kesulitan dan berusaha mengajak
anda bicara. Tetapi dengan berjalannya hari, suami anda akan terbiasa
dengan boikot anda, malah jika anda memboikotnya satu minggu, maka suami
anda akan memboikot anda selama dua minggu, pada saat itu, kalian para
istri yang akan menanggung akbibat buruk dari senjata kalian tadi.
Seharusnya
anda para istri, mengajarkan kepada suami anda, bahwa anda adalah udara
segar yang dihirupnya, air yang dimunimnya, yang suami anda selalu
merasa membutuhkan anda. Jadilah seperti angin yang lembut baginya, dan
janganlah menjadi angin yang bertiup dengan sangat keras.
Dua
jam setelah anda sibuk dengan pekerjaan rumah dan membiarkan suami anda
diam merenungi kesalahannya saat marah-marah tadi, maka buatkanlah
suami anda minuman, segelas jus atau secangkir the. Katakan kepadanya
dengan lembut untuk meminumnya, anda harus membuatkan minuman baginya
karena memang suami anda lelah dan kering tenggorokannya karena
marah-marah dan berteriak tadi. Berbicaralah kepadanya dengan sikap
normal, seakan-akan tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Maka dapatilah
suami anda akan memandang heran kepada anda, suami anda akan takjub dan
merasa bersalah, kadang suami anda akan memulai berbicara, “Apakah
engkau marah wahai istriku?” Maka jawablah, “Tidak! Aku tidak marah
wahai suamiku, engkau telah mengucapkan banyak hal yang benar, mungkin
aku telah khilaf berbuat kesalahan tanpa aku sadari, maka didiklah aku
dengan lembut, didiklah aku dengan kasih sayangmu…”
Maka
dapatilah suami anda akan meminta maaf atas ucapan-ucapan kasarnya dan
mulai mengungkapkan hal-hal yang indah tentang anda, pada saat itu,
peluklah dia erat dan berikanlah perlindungan akan kegalauan dan
kesedihannya, dan hendaknya anda juga minta maaf kepadanya, walaupun
anda meyakini bahwa anda berada di pihak yang benar.
Maka
terimalah permintaan maaf suami anda itu dan janganlah menjadi wanita
yang bodoh yang merasa di atas angin kemudian balas mencercanya.
Hendaknya kalian wahai para istri, tidak mengambil sedikitpun dan
janganlah memasukkan dalam hati celaan suami di kala marah, karena itu
bukan isi hatinya yang sebenarnya. Bukankah engkau mengetahui bahwa
talak dalam keadaan marah pun ditolak hukumnya? Maka janganlah menjadi
istri yang buruk yang membenarkan perkataan suami di saat marah dan
mendustakan kata-kata suami di saat marahnya sudah mereda.
Maka
janganlah ada istri yang sampai memiliki pikiran, bahwa kehormatannya
diinjak-injak suaminya, ketahuilah! Kehormatan anda wahai para istri
yang sukses, yaitu jika anda tidak membenarkan ucapakan kasar suami anda
yang melukai hati anda saat suami marah. Tetapi engkau membenarkan
ucapan suami anda ketika marahnya sudah mereda. Itulah kehormatan
dirimu.
………………………….
Apakah engkau mampu
melakukan itu semua wahai para istri, seberapa penting rumah tangga
kalian bagi diri kalian? Seberapa besar rasa cinta kalian kepada suami
kalian? Bukankah anak-anak juga mendapatkan hak ketenangan dalam
rumahnya, bagaimana mungkin anak-anak bisa tenang jika Bapak dan Ibunya
bertengkar dengan suara yang bersahutan? Apalagi sampai ada piring
terbang atau kucing terbang???
Memang rasanya agak berat untuk melakukan seperti itu..mudah2an allah menolong kita para isteri dalam berbuat kebaikan..
Insya Allooh engkau bisa
melakukannya wahai para istri, do’aku bagi rumah tangga kalian semua
wahai kaum muslimin, agar kalian dianugerahi rumah tangga yang sakinah
mawaddah warrohmah. Aamiin
Oleh Andi Abu Hudzaifah Najwa.
Minggu, 19 Oktober 2014
Selasa, 12 Agustus 2014
Isteri Sholeha di zaman Nabi
Kisah Ini saya ambil dari artikel d google.. semoga bermanfaat
Isteri Solehah itu Sepatutnya Sabar di Hati dan Syukur Pada Wajah
Saya ingin menyingkap kembali sejarah Nabi Ibrahim sewaktu baginda menziarahi menantunya. Pada waktu itu, puteranya, Nabi Ismail tidak di rumah sedangkan isterinya belum pernah bertemu bapak mertuanya, yaitu Nabi Ibrahim.
Setelah sampai di rumah anaknya itu, terjadilah dialog antara Nabi Ibrahim dan menantunya.
Nabi Ibrahim : Siapakah kamu?
Menantu : Aku isteri Ismail.
Nabi Ibrahim : Di manakah suamimu, Ismail?
Menantu : Dia pergi berburu.
Nabi Ibrahim : Bagaimanakah keadaan hidupmu sekeluarga?
Menantu : Oh, kami semua dalam kesempitan dan (mengeluh) tidak pernah senang dan santai.
Nabi Ibrahim : Baiklah! Jika suamimu pulang, sampaikan salamku padanya. Katakan padanya, tukar tiang pintu rumahnya (sebagai kiasan supaya menceraikan istrinya).
Menantu : Ya, baiklah.
Setelah Nabi Ismail pulang dari berburu,isterinya terus menceritakan tentang orang tua yang telah singgah di rumah mereka.
Nabi Ismail : Apakah ada yang ditanya oleh orang tua itu?
Isteri : Dia bertanya tentang keadaan hidup kita.
Nabi Ismail : Apa jawabanmu?
Isteri : Aku ceritakan kita ini orang yang susah. Hidup kita ini selalu dalam kesempitan, tidak pernah senang.
Nabi Ismail : Adakah dia berpesan apa-apa?
Isteri : Ya ada. Dia berpesan supaya aku menyampaikan salam kepadamu serta meminta kamu menukar tiang pintu rumahmu.
Nabi Ismail : Sebenarnya dia itu ayahku. Dia menyuruh kita berpisah. Sekarang kembalilah kau kepada keluargamu.
Ismail pun menceraikan isterinya yang suka menggerutu, tidak bertimbang rasa serta tidak bersyukur kepada takdir Allah Ta'ala. Sanggup pula menceritakan rahasia rumah tangga kepada orang luar.
Tidak lama sesudah itu, Nabi Ismail kawin lagi. Setelah sekian lama, Nabi Ibrahim datang lagi ke Makkah dengan tujuan menziarahi anak dan menantunya. Terjadi lagi pertemuan antara mertua dan menantu yang saling tidak mengenali.
Nabi Ibrahim : Dimana suamimu?
Menantu : Dia tidak dirumah. Dia sedang berburu.
Nabi Ibrahim : Bagaimana keadaan hidupmu sekeluarga? Mudah-mudahan dalam kesenangan?
Menantu : Syukurlah kepada Tuhan, kami semua dalam keadaan sejahtera,tiada kekurangan.
Nabi Ibrahim : Baguslah kalau begitu.
Menantu : Silakan duduk sebentar. Boleh saya hidangkan sedikit makanan.
Nabi Ibrahim : Apa pula yang ingin kamu hidangkan?
Menantu : Ada sedikit daging, tunggulah saya sediakan minuman dahulu.
Nabi Ibrahim : (Berdoa) Ya Allah! Ya Tuhanku!Berkatilah mereka dalam makan minum mereka.(Berdasarkan peristiwa ini, Rasulullah beranggapan keadaan mewah negeri Makkah adalah berkat doa Nabi Ibrahim).
Nabi Ibrahim : Baiklah, nanti apabila suamimu pulang, sampai- kan salamku kepadanya. Suruhlah dia menetapkan tiang pintu rumahnya (sebagai kiasan untuk melanggengkan isteri Nabi Ismail).
Setelah Nabi Ismail pulang dari berburu, seperti biasa dia bertanya sekiranya siapa yang datang mencarinya.
Nabi Ismail : Ada sesiapa yg datang sewaktu aku tidak di rumah?
Isteri : Ya, ada. Seorang tua yang baik rupanya dan perwatakannya sepertimu.
Nabi Ismail : Apa katanya?
Isteri : Dia bertanya tentang keadaan hidup kita.
Nabi Ismail : Apa jawabanmu?
Isteri : Aku nyatakan kepadanya hidup kita dalam keadaan baik, tidak kekurangan apapun , Aku ajak juga dia makan dan minum.
Nabi Ismail : Adakah dia berpesan apa-apa?
Isteri : Ada, dia berkirim salam buatmu dan menyuruh kamu melanggengkan tiang pintu rumahmu.
Nabi Ismail : Oh, begitu. Sebenarnya dialah ayahku.Tiang pintu yang dimaksudkannya itu ialah dirimu yang dimintanya untuk aku langgengkan.
Isteri : Alhamdulillah, syukur.
Bagaimana pandangan saudara-saudariku yang baik tentang petikan sejarah ini? Saya rasa sejarah ini sungguh menyentuh jiwa. Kita juga tentu merasa dan mengalami sendiri ujian hidup berumahtangga yang senantiasa memerlukan kesabaran.
Berpandukan sejarah tersebut, saya tegaskan kepada diri sendiri bahwa isteri solehah itu sepatutnya sabar di hati dan syukur pada wajah?.
Dari sini akan terpancar ketenangan setiap kali suami berhadapan dengan isteri salehah.
Isteri salehah tidak cerewet dan tidak mudah menggerutu.
Isteri salehah hendaklah senantiasa bersyukur dalam keadaan senang maupun susah supaya Allah tambahkan lagi rahmat-Nya seperti firman-Nya yang artinya: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku tambahkan nikmat-Ku kepadamu. Dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku amat pedih.” (Surah Ibrahim, ayat 7)
Untuk menambahkan kegigihan kita berusaha menjadi isteri salehah, ingatlah hadis Rasulullah yang artinya:“Sampaikanlah kepada sesiapa yang engkau temui dari kaum wanita, bahwasanya taat kepada suami serta mengakui haknya adalah menyamai pahala orang yang berjihad pada jalan Allah, tetapi sangat sedikit sekali golongan kamu yang dapat melakukan demikian.” (Riwayat Al-Bazzar dan Ath-Thabrani)
Begitulah, untuk menyiapkan diri sebagai isteri salehah, hati kita hendaklah senantiasa dipenuhi dengan kasih sayang rabbani. Contoh teladan yang sepatutnya jadi rujukan kita ialah sejarah kehidupan nabi serta orang saleh.
Semoga Bermanfaat ...
Salam Santun Ukhuwah Karena-NYA
Saya ingin menyingkap kembali sejarah Nabi Ibrahim sewaktu baginda menziarahi menantunya. Pada waktu itu, puteranya, Nabi Ismail tidak di rumah sedangkan isterinya belum pernah bertemu bapak mertuanya, yaitu Nabi Ibrahim.
Setelah sampai di rumah anaknya itu, terjadilah dialog antara Nabi Ibrahim dan menantunya.
Nabi Ibrahim : Siapakah kamu?
Menantu : Aku isteri Ismail.
Nabi Ibrahim : Di manakah suamimu, Ismail?
Menantu : Dia pergi berburu.
Nabi Ibrahim : Bagaimanakah keadaan hidupmu sekeluarga?
Menantu : Oh, kami semua dalam kesempitan dan (mengeluh) tidak pernah senang dan santai.
Nabi Ibrahim : Baiklah! Jika suamimu pulang, sampaikan salamku padanya. Katakan padanya, tukar tiang pintu rumahnya (sebagai kiasan supaya menceraikan istrinya).
Menantu : Ya, baiklah.
Setelah Nabi Ismail pulang dari berburu,isterinya terus menceritakan tentang orang tua yang telah singgah di rumah mereka.
Nabi Ismail : Apakah ada yang ditanya oleh orang tua itu?
Isteri : Dia bertanya tentang keadaan hidup kita.
Nabi Ismail : Apa jawabanmu?
Isteri : Aku ceritakan kita ini orang yang susah. Hidup kita ini selalu dalam kesempitan, tidak pernah senang.
Nabi Ismail : Adakah dia berpesan apa-apa?
Isteri : Ya ada. Dia berpesan supaya aku menyampaikan salam kepadamu serta meminta kamu menukar tiang pintu rumahmu.
Nabi Ismail : Sebenarnya dia itu ayahku. Dia menyuruh kita berpisah. Sekarang kembalilah kau kepada keluargamu.
Ismail pun menceraikan isterinya yang suka menggerutu, tidak bertimbang rasa serta tidak bersyukur kepada takdir Allah Ta'ala. Sanggup pula menceritakan rahasia rumah tangga kepada orang luar.
Tidak lama sesudah itu, Nabi Ismail kawin lagi. Setelah sekian lama, Nabi Ibrahim datang lagi ke Makkah dengan tujuan menziarahi anak dan menantunya. Terjadi lagi pertemuan antara mertua dan menantu yang saling tidak mengenali.
Nabi Ibrahim : Dimana suamimu?
Menantu : Dia tidak dirumah. Dia sedang berburu.
Nabi Ibrahim : Bagaimana keadaan hidupmu sekeluarga? Mudah-mudahan dalam kesenangan?
Menantu : Syukurlah kepada Tuhan, kami semua dalam keadaan sejahtera,tiada kekurangan.
Nabi Ibrahim : Baguslah kalau begitu.
Menantu : Silakan duduk sebentar. Boleh saya hidangkan sedikit makanan.
Nabi Ibrahim : Apa pula yang ingin kamu hidangkan?
Menantu : Ada sedikit daging, tunggulah saya sediakan minuman dahulu.
Nabi Ibrahim : (Berdoa) Ya Allah! Ya Tuhanku!Berkatilah mereka dalam makan minum mereka.(Berdasarkan peristiwa ini, Rasulullah beranggapan keadaan mewah negeri Makkah adalah berkat doa Nabi Ibrahim).
Nabi Ibrahim : Baiklah, nanti apabila suamimu pulang, sampai- kan salamku kepadanya. Suruhlah dia menetapkan tiang pintu rumahnya (sebagai kiasan untuk melanggengkan isteri Nabi Ismail).
Setelah Nabi Ismail pulang dari berburu, seperti biasa dia bertanya sekiranya siapa yang datang mencarinya.
Nabi Ismail : Ada sesiapa yg datang sewaktu aku tidak di rumah?
Isteri : Ya, ada. Seorang tua yang baik rupanya dan perwatakannya sepertimu.
Nabi Ismail : Apa katanya?
Isteri : Dia bertanya tentang keadaan hidup kita.
Nabi Ismail : Apa jawabanmu?
Isteri : Aku nyatakan kepadanya hidup kita dalam keadaan baik, tidak kekurangan apapun , Aku ajak juga dia makan dan minum.
Nabi Ismail : Adakah dia berpesan apa-apa?
Isteri : Ada, dia berkirim salam buatmu dan menyuruh kamu melanggengkan tiang pintu rumahmu.
Nabi Ismail : Oh, begitu. Sebenarnya dialah ayahku.Tiang pintu yang dimaksudkannya itu ialah dirimu yang dimintanya untuk aku langgengkan.
Isteri : Alhamdulillah, syukur.
Bagaimana pandangan saudara-saudariku yang baik tentang petikan sejarah ini? Saya rasa sejarah ini sungguh menyentuh jiwa. Kita juga tentu merasa dan mengalami sendiri ujian hidup berumahtangga yang senantiasa memerlukan kesabaran.
Berpandukan sejarah tersebut, saya tegaskan kepada diri sendiri bahwa isteri solehah itu sepatutnya sabar di hati dan syukur pada wajah?.
Dari sini akan terpancar ketenangan setiap kali suami berhadapan dengan isteri salehah.
Isteri salehah tidak cerewet dan tidak mudah menggerutu.
Isteri salehah hendaklah senantiasa bersyukur dalam keadaan senang maupun susah supaya Allah tambahkan lagi rahmat-Nya seperti firman-Nya yang artinya: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku tambahkan nikmat-Ku kepadamu. Dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku amat pedih.” (Surah Ibrahim, ayat 7)
Untuk menambahkan kegigihan kita berusaha menjadi isteri salehah, ingatlah hadis Rasulullah yang artinya:“Sampaikanlah kepada sesiapa yang engkau temui dari kaum wanita, bahwasanya taat kepada suami serta mengakui haknya adalah menyamai pahala orang yang berjihad pada jalan Allah, tetapi sangat sedikit sekali golongan kamu yang dapat melakukan demikian.” (Riwayat Al-Bazzar dan Ath-Thabrani)
Begitulah, untuk menyiapkan diri sebagai isteri salehah, hati kita hendaklah senantiasa dipenuhi dengan kasih sayang rabbani. Contoh teladan yang sepatutnya jadi rujukan kita ialah sejarah kehidupan nabi serta orang saleh.
Semoga Bermanfaat ...
Salam Santun Ukhuwah Karena-NYA
Minggu, 10 Agustus 2014
Istri Sholeha
Artikel ini saya kutip dari media.kompasiana,, semoga bermanfaat
Mau Jadi Istri Sholeha dan Disayangi Suami? Inilah Caranya…
Ada beberapa tips agar dapat menjadi istri yang sholeha, ni dia tipsnya.. :
1. Segera menyahut dan hadir apabila diajak untuk berhubungan.
2. Tidak membantah perintah suami selagi tidak bertentangan dengan syariat.
3. Tidak bermasam muka terhadap suami.
4. Senantiasa berusaha memilih perkataan yang terbaik ketika berbicara.
5. Tidak memerintahkan suami untuk mengerjakan pekerjaan wanita.
6. Keluar rumah hanya dengan izin suami.
7. Berhias hanya untuk suami.
8. Tidak memasukkan orang ke dalam rumah tanpa seijin suami.
9. Menjaga waktu makan dan waktu istirahat suami.
10. Menghormati mertua serta kerabat keluarga suami. Terutama ibu mertua.
11. Berusaha menenangkan hati suami jika suami galau.
12. Segera minta ma’af jika melakukan kesalahan kepada suami.
13. Mencium tangan suami tatkala datang dan pergi.
14. Mau diajak oleh suami untuk sholat malam, dan mengajak suami untuk sholat malam.
15. Tidak menyebarkan rahasia keluarga terlebih lagi rahasia ranjang…!
16. Tidak membentak atau mengeraskan suara di hadapan suami.
17. Berusaha untuk bersifat qona’ah (nerimo) sehingga tidak banyak menuntut harta kepada suami.
18. Sedih dan bergembira bersama suami dan berusaha pandai mengikuti suasana hatinya.
19. Perhatian akan penampilan, jangan sampai terlihat dan tercium oleh suami sesuatu yang tidak disukainya.
20. Berusaha mengatur uang suami dan tidak boros.
21. Tidak menceritakan kecantikan dan sifat-sifat wanita lain kepada suaminya.
22. Berusaha menasehati suami dengan baik tatkala suami terjerumus dalam kemaksiatan, bukan malah ikut-ikutan.
23. Menjaga pandangan dan tidak suka membanding-bandingkan suami dgn para lelaki lain.
24. Lebih suka menetap di rumah, dan tidak suka sering keluar rumah.
Selamat Menjadi Wanita Sholeha… Mari Bersama Memperbaiki diri Menjadi Lebih baik… (:
2. Tidak membantah perintah suami selagi tidak bertentangan dengan syariat.
3. Tidak bermasam muka terhadap suami.
4. Senantiasa berusaha memilih perkataan yang terbaik ketika berbicara.
5. Tidak memerintahkan suami untuk mengerjakan pekerjaan wanita.
6. Keluar rumah hanya dengan izin suami.
7. Berhias hanya untuk suami.
8. Tidak memasukkan orang ke dalam rumah tanpa seijin suami.
9. Menjaga waktu makan dan waktu istirahat suami.
10. Menghormati mertua serta kerabat keluarga suami. Terutama ibu mertua.
11. Berusaha menenangkan hati suami jika suami galau.
12. Segera minta ma’af jika melakukan kesalahan kepada suami.
13. Mencium tangan suami tatkala datang dan pergi.
14. Mau diajak oleh suami untuk sholat malam, dan mengajak suami untuk sholat malam.
15. Tidak menyebarkan rahasia keluarga terlebih lagi rahasia ranjang…!
16. Tidak membentak atau mengeraskan suara di hadapan suami.
17. Berusaha untuk bersifat qona’ah (nerimo) sehingga tidak banyak menuntut harta kepada suami.
18. Sedih dan bergembira bersama suami dan berusaha pandai mengikuti suasana hatinya.
19. Perhatian akan penampilan, jangan sampai terlihat dan tercium oleh suami sesuatu yang tidak disukainya.
20. Berusaha mengatur uang suami dan tidak boros.
21. Tidak menceritakan kecantikan dan sifat-sifat wanita lain kepada suaminya.
22. Berusaha menasehati suami dengan baik tatkala suami terjerumus dalam kemaksiatan, bukan malah ikut-ikutan.
23. Menjaga pandangan dan tidak suka membanding-bandingkan suami dgn para lelaki lain.
24. Lebih suka menetap di rumah, dan tidak suka sering keluar rumah.
Tips Keharmonisan Suami Isteri ^^
Artikel Ini Saya ambil dr slh satu blog,, trmaksh & mohon izin copy.. ^^
SIAPA PUN yang telah mengikatkan diri dalam tali pernikahan tentunya menginginkan atmosfer rumah tangga yang harmonis. Maka yang harus dipikirkan pertama kali adalah bagaimana melakukan harmonisasi hubungan suami-istri. Menjaga keharmonisan pasangan suami-istri (pasutri) tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, tapi membutuhkan usaha dan pengorbanan.
Berikut ini adalah sepuluh tips mewujudkan keharmonisan pasutri, sebagaimana ditulis Wafaa‘ Muhammad, dalam kitabnya Kaifa Tushbihina Zaujah Rumansiyyah:
1. Berupaya saling mengenal dan memahami
Perbedaan lingkungan dan kondisi tempat suami atau istri tumbuh sangat berpengaruh dalam pembentukan ragam selera, perilaku, dan sikap yang berlainan pada setiap pihak dari yang lain. Hal itu merupakan kewajiban setiap pasutri untuk memahami keadaan ini dan berusaha mengetahui serta mengenal pihak lain yang menjadi pasangan hidupnya. Mereka juga harus mengetahui semua hal yang berkaitan dengan situasi kehidupan yang mempengaruhi, sehingga dapat maju ke depan dan mewujudkan keharmonisan.
2. Perasaan timbal-balik
Suami dan istri adalah partner dalam satu kehidupan yang direkatkan dalam tali pernikahan; satu ikatan suci yang mempertemukan keduanya. Tak pelak lagi, keduanya harus berbagi suka-duka; membagi kesedihan dan kegembiraan bersama. Keduanya saling berkelindan untuk menyongsong satu cita-cita luhur yaitu mewujudkan tatanan kehidupan berdasarkan aturan Allah dan Rasul-Nya. Untuk memupuk kasih sayang di masing-masing pihak, suami membutuhkan cinta istri, dan istri pun membutuhkan cinta suami.
Ketika suami atau istri memasuki rumahnya, maka dia layak mendapatkan penghormatan dan apresiasi dari pasangannya. Hal itu bertujuan untuk menjaga harkat dan mengangkat prestise pasutri, sehingga masing-masing merasa nyaman untuk membangun rumah tangga harmonis. Dalam hal ini, sudah menjadi kewajiban pasutri untuk mencari poin-poin positif yang dimiliki masing-masing untuk digunakan sebagai penopang sikap saling menghormati.
4. Berusaha menyenangkan pasangannya
Dalam kehidupan keluarga, bahkan dalam kehidupan sosial secara general, jika seseorang berusaha mengedepankan dan mengutamakan orang lain dari dirinya sendiri, maka berarti dia telah menanam benih-benih cinta dan kedekatan kepada semua orang di sekelilingnya.
Dengan demikian, setiap pasutri disarankan untuk senantiasa menyenangkan pasangannya, dan mendahulukan serta mengutamakannya dari dirinya sendiri, demi memperkukuh ikatan cinta kasih di antara keduanya. Pasalnya, ketika suami melihat istri membaktikan diri untuk menyenangkan dirinya, tentunya dia akan melakukan sesuatu yang bisa membuat senang dan gembira hati istri. Hal itu dilakukannya untuk membalas kebaikan istrinya, atau setidaknya sebagai pengakuan atas kebaikan tersebut.
5. Mengatasi persoalan bersama
Pernikahan merupakan bentuk relasi partnership dan partisipasi. Partnership yang berdiri di atas landasan kesamaan tujuan, cita-cita, sikap, intuisi dan perasaan, serta kolaborasi dan solidaritas dalam memecahkan setiap persoalan. Setiap masalah yang timbul dalam kehidupan suami-istri, maka masalah itu dilihat sebagai suatu kecemasan kolektif.
6. Sikap qana’ah
Di antara tanda keharmonisan cinta pasutri adalah sikap merasa puas dengan yang ada (qana’ah); merasa puas dengan prasarana hidup yang tersedia. Kelanjutan sikap manja, kebiasan hidup serba ada, boros dan berfoya-foya pada masa kecil atau remaja termasuk salah satu faktor yang memicu pertikaian pasutri. Sikap demikian berlawanan dengan kedewasaan yang menuntut pandangan realistis tentang kehidupan. Hal-hal picisan dan glamor yang digembar-gemborkan media publikasi sejatinya tidak akan menciptakan kebahagiaan. Karena kebahagiaan sejati memancar dari hati dan jiwa terdalam, bukan bertolak dari aspek-aspek materi yang justru memicu kesenjangan dan konflik pasutri.
7. Sikap toleransi kedua belah pihak
Sungguh sangat tidak logis jika setiap pihak mengharapkan perilaku ideal permanen dari pasangannya dalam hubungan rumah tangga, karena menurut tabiatnya, manusia kadang salah dan benar. Suami atau istri kadang lupa dan khilaf sehingga kerap mengulangi kesalahan serta kekeliruannya. Dia mungkin melakukan kesalahan karena ketidaktahuan, dan mengulanginya tanpa disadarinya. Jika setiap pihak berkeinginan untuk menghukum, menghakimi, atau membalas dendam untuk setiap kesalahan yang dilakukan pasangannya, maka berarti dia merusak fondasi keharmonisan rumah tangga.
8. Berterus-terang
Sikap terus terang, kejujuran, dan keberanian adalah kunci kebahagiaan kehidupan rumah tangga yang tidak mungkin nihil dari kesalahan. Dalam artian, jika Anda melakukan kesalahan, maka yang harus Anda lakukan adalah bergegas meminta maaf, berani mengakuinya, dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi di kemudian hari. Sikap tersebut sama sekali tidak berarti menistakan status dan harga diri Anda. Hal itu justru mendorong pihak lain untuk menghormati, mempercayai, dan memaafkan Anda.
9. Kepedulian dan solidaritas
Bagian fragmen terindah kehidupan rumah tangga adalah kepedulian dan solidaritas yang dilakoni suami atau istri dalam menghadapi kesulitan dengan kesabaran dan perjuangan luar biasa. Tatkala istri berdiri di samping suaminya, maka suami akan merasa kuat dan penuh percaya diri, begitu juga sebaliknya. Ketika istri atau suami merasakan bahwa pasangannya merasa kuat dan percaya diri, maka dia akan merasa jiwanya diliputi kedamaian dan ketenteraman. Sisi ini pada kenyataannya merupakan esensi pernikahan dan integrasi batin di antara kedua belah pihak.
10. Kearifan
Kearifan satu sama lain –hingga pada situasi yang paling suram— membantu meletakkan fondasi kukuh keharmonisan. Bisa jadi, dikarenakan sebuah kesalahan, suami atau istri memiliki kemampuan hebat untuk mencelakai pasangannya, hanya saja kearifan mencegahnya melakukan hal itu. Kearifan memperkokoh semangat kesepahaman di antara keduanya. Atau salah satu pasutri mungkin merasa lebih berhak dalam hal tertentu, namun setelah berpikir ulang tentang hal itu, dia tidak lagi keukeuh mempertahankan pendapatnya yang bisa memicu friksi.
SIAPA PUN yang telah mengikatkan diri dalam tali pernikahan tentunya menginginkan atmosfer rumah tangga yang harmonis. Maka yang harus dipikirkan pertama kali adalah bagaimana melakukan harmonisasi hubungan suami-istri. Menjaga keharmonisan pasangan suami-istri (pasutri) tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, tapi membutuhkan usaha dan pengorbanan.
Berikut ini adalah sepuluh tips mewujudkan keharmonisan pasutri, sebagaimana ditulis Wafaa‘ Muhammad, dalam kitabnya Kaifa Tushbihina Zaujah Rumansiyyah:
1. Berupaya saling mengenal dan memahami
Perbedaan lingkungan dan kondisi tempat suami atau istri tumbuh sangat berpengaruh dalam pembentukan ragam selera, perilaku, dan sikap yang berlainan pada setiap pihak dari yang lain. Hal itu merupakan kewajiban setiap pasutri untuk memahami keadaan ini dan berusaha mengetahui serta mengenal pihak lain yang menjadi pasangan hidupnya. Mereka juga harus mengetahui semua hal yang berkaitan dengan situasi kehidupan yang mempengaruhi, sehingga dapat maju ke depan dan mewujudkan keharmonisan.
2. Perasaan timbal-balik
Suami dan istri adalah partner dalam satu kehidupan yang direkatkan dalam tali pernikahan; satu ikatan suci yang mempertemukan keduanya. Tak pelak lagi, keduanya harus berbagi suka-duka; membagi kesedihan dan kegembiraan bersama. Keduanya saling berkelindan untuk menyongsong satu cita-cita luhur yaitu mewujudkan tatanan kehidupan berdasarkan aturan Allah dan Rasul-Nya. Untuk memupuk kasih sayang di masing-masing pihak, suami membutuhkan cinta istri, dan istri pun membutuhkan cinta suami.
…Suami dan istri harus berbagi suka-duka, membagi kesedihan dan kegembiraan bersama…3. Setiap pihak harus hormat
Ketika suami atau istri memasuki rumahnya, maka dia layak mendapatkan penghormatan dan apresiasi dari pasangannya. Hal itu bertujuan untuk menjaga harkat dan mengangkat prestise pasutri, sehingga masing-masing merasa nyaman untuk membangun rumah tangga harmonis. Dalam hal ini, sudah menjadi kewajiban pasutri untuk mencari poin-poin positif yang dimiliki masing-masing untuk digunakan sebagai penopang sikap saling menghormati.
4. Berusaha menyenangkan pasangannya
Dalam kehidupan keluarga, bahkan dalam kehidupan sosial secara general, jika seseorang berusaha mengedepankan dan mengutamakan orang lain dari dirinya sendiri, maka berarti dia telah menanam benih-benih cinta dan kedekatan kepada semua orang di sekelilingnya.
Dengan demikian, setiap pasutri disarankan untuk senantiasa menyenangkan pasangannya, dan mendahulukan serta mengutamakannya dari dirinya sendiri, demi memperkukuh ikatan cinta kasih di antara keduanya. Pasalnya, ketika suami melihat istri membaktikan diri untuk menyenangkan dirinya, tentunya dia akan melakukan sesuatu yang bisa membuat senang dan gembira hati istri. Hal itu dilakukannya untuk membalas kebaikan istrinya, atau setidaknya sebagai pengakuan atas kebaikan tersebut.
5. Mengatasi persoalan bersama
Pernikahan merupakan bentuk relasi partnership dan partisipasi. Partnership yang berdiri di atas landasan kesamaan tujuan, cita-cita, sikap, intuisi dan perasaan, serta kolaborasi dan solidaritas dalam memecahkan setiap persoalan. Setiap masalah yang timbul dalam kehidupan suami-istri, maka masalah itu dilihat sebagai suatu kecemasan kolektif.
…Setiap masalah yang timbul dalam kehidupan suami-istri, harus dipandang sebagai suatu kecemasan kolektif…Paradigma demikian memicu suami agar berusaha bekerja keras dalam rangka memberikan kehidupan mulia bagi istri dan anak-anaknya. Pun demikian, istri akan berusaha menjalankan urusan rumah tangga sesuai prosedur yang disepakati bersama. Upaya yang dilakukan oleh suami dan istri tersebut merupakan solusi untuk memecahkan masalah bersama. Pun demikian, baik suami maupun istri tidak perlu menyembunyikan problemnya, bahkan diperlukan kejujuran dan transparansi demi menumbuhkan benih-benih kepercayaan dan saling pengertian, sehingga mudah menemukan solusi. Bisa jadi, permasalahan memiliki dampak positif untuk meneguhkan ikatan suami-istri.
6. Sikap qana’ah
Di antara tanda keharmonisan cinta pasutri adalah sikap merasa puas dengan yang ada (qana’ah); merasa puas dengan prasarana hidup yang tersedia. Kelanjutan sikap manja, kebiasan hidup serba ada, boros dan berfoya-foya pada masa kecil atau remaja termasuk salah satu faktor yang memicu pertikaian pasutri. Sikap demikian berlawanan dengan kedewasaan yang menuntut pandangan realistis tentang kehidupan. Hal-hal picisan dan glamor yang digembar-gemborkan media publikasi sejatinya tidak akan menciptakan kebahagiaan. Karena kebahagiaan sejati memancar dari hati dan jiwa terdalam, bukan bertolak dari aspek-aspek materi yang justru memicu kesenjangan dan konflik pasutri.
7. Sikap toleransi kedua belah pihak
Sungguh sangat tidak logis jika setiap pihak mengharapkan perilaku ideal permanen dari pasangannya dalam hubungan rumah tangga, karena menurut tabiatnya, manusia kadang salah dan benar. Suami atau istri kadang lupa dan khilaf sehingga kerap mengulangi kesalahan serta kekeliruannya. Dia mungkin melakukan kesalahan karena ketidaktahuan, dan mengulanginya tanpa disadarinya. Jika setiap pihak berkeinginan untuk menghukum, menghakimi, atau membalas dendam untuk setiap kesalahan yang dilakukan pasangannya, maka berarti dia merusak fondasi keharmonisan rumah tangga.
…Kesalahan tidak perlu diikuti dengan tekanan, cacian, dan intimidasi, terutama jika kesalahan itu tidak berkaitan dengan norma-norma keislaman…Jika kita mencela segala hal, maka kita tidak akan menemukan sesuatu yang tidak kita cela. Melakukan kesalahan adalah hal lumrah yang hanya membutuhkan pelurusan, pengarah, dan petunjuk, yang dibarengi dengan sikap penyesalan dan keinginan untuk berubah lebih baik. Kesalahan tidak perlu diikuti dengan tekanan, cacian, dan intimidasi, terutama jika kesalahan itu tidak berkaitan dengan norma-norma keislaman. Yakinlah bahwa seseorang tidak akan kehabisan cara yang sesuai untuk mengoreksi kesalahan dan penyimpangan pasangannya. Jalan terbaik dalam hal ini adalah nasihat yang tenang dan membuat pasangannya merasa bahwa hal itu adalah untuk kebaikan diri dan keluarganya.
8. Berterus-terang
Sikap terus terang, kejujuran, dan keberanian adalah kunci kebahagiaan kehidupan rumah tangga yang tidak mungkin nihil dari kesalahan. Dalam artian, jika Anda melakukan kesalahan, maka yang harus Anda lakukan adalah bergegas meminta maaf, berani mengakuinya, dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi di kemudian hari. Sikap tersebut sama sekali tidak berarti menistakan status dan harga diri Anda. Hal itu justru mendorong pihak lain untuk menghormati, mempercayai, dan memaafkan Anda.
9. Kepedulian dan solidaritas
Bagian fragmen terindah kehidupan rumah tangga adalah kepedulian dan solidaritas yang dilakoni suami atau istri dalam menghadapi kesulitan dengan kesabaran dan perjuangan luar biasa. Tatkala istri berdiri di samping suaminya, maka suami akan merasa kuat dan penuh percaya diri, begitu juga sebaliknya. Ketika istri atau suami merasakan bahwa pasangannya merasa kuat dan percaya diri, maka dia akan merasa jiwanya diliputi kedamaian dan ketenteraman. Sisi ini pada kenyataannya merupakan esensi pernikahan dan integrasi batin di antara kedua belah pihak.
10. Kearifan
Kearifan satu sama lain –hingga pada situasi yang paling suram— membantu meletakkan fondasi kukuh keharmonisan. Bisa jadi, dikarenakan sebuah kesalahan, suami atau istri memiliki kemampuan hebat untuk mencelakai pasangannya, hanya saja kearifan mencegahnya melakukan hal itu. Kearifan memperkokoh semangat kesepahaman di antara keduanya. Atau salah satu pasutri mungkin merasa lebih berhak dalam hal tertentu, namun setelah berpikir ulang tentang hal itu, dia tidak lagi keukeuh mempertahankan pendapatnya yang bisa memicu friksi.
…masalah silih berganti menghampiri. Maka, kearifan adalah benteng kokoh yang melindungi keluarga dari disharmonisasi…Ketika dia mundur dengan motif kearifan, maka dia berarti melenyapkan aroma konflik dan perselisihan. Namun jika sikap mau menang sendiri dan superioritas negatif menggantikan posisi kearifan, maka kedamaian dan kemapanan kehidupan rumah tangga akan tercederai. Jika demikian, tak heran jika masalah silih berganti menghampiri. Maka, kearifan adalah benteng kokoh yang melindungi keluarga dari disharmonisasi.
Sabtu, 04 Januari 2014
Ya Allah,, Aku Menikah..
Artikel Ini Saya ambil dr slh satu blog,, trmaksh & mohon izin copy.. ^^
Betapa banyak sekolah-sekolah tinggi ternama. Namun tak satu pun mengajarkan pelajaran kiat jitu persiapan-persiapan menikah, apalagi memberikan kisi-kisi cara mudah menikah. Maka tak heran jika sebuah pernikahan yang sebenarnya begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari, terasa sangat awam bagi seseorang yang belum menjalaninya.
Betapa banyak sekolah-sekolah tinggi ternama. Namun tak satu pun mengajarkan pelajaran kiat jitu persiapan-persiapan menikah, apalagi memberikan kisi-kisi cara mudah menikah. Maka tak heran jika sebuah pernikahan yang sebenarnya begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari, terasa sangat awam bagi seseorang yang belum menjalaninya.
Suatu ketika seorang pemuda ditanyai
oleh temannya yang sudah lama tidak berjumpa. “Apa kabarmu sekarang,
lama tidak jumpa, sudah siap menikah?” Maklum, temannya itu telah lebih
dahulu menikah. Setelah berpikir keras dan mengingat-ingat tentang
pernikahan, akhirnya ia pun menjawab dengan malu. “Aku masih butuh waktu
untuk mempersiapkan diri,” jawab pemuda itu.
Seiring berjalannya waktu, pemuda itu
mulai rajin membaca buku-buku tentang pernikahan. Berkonsultasi kepada
orang yang berpengalaman. Setelah saatnya tiba, ia kini merasa siap, dan
menyampaikan pada orang tuanya tentang niatnya untuk menikah. Namun apa
yang terjadi? Ternyata orang tuanya belum mengijinkan pemuda itu untuk
menikah. “Mau kau beri makan apa istri dan anakmu, kerja saja belum
pasti,” kata orang tuanya ketus. Akhirnya, pemuda itu pun menunda
niatnya untuk menikah…
***
Sungguh pernikahan bukanlah perkara
mudah. Sunnah Rasul yang satu ini senilai dengan separuh agama. Sungguh
luar biasa bukan. Oleh karenanya, mempersiapkan pernikahan harus
dilakukan secara matang. Mungkin kisah di atas tidak semua orang
mengalaminya. Akan tetapi menikah itu bukan sim salabim. Dan dalam
sekejap dan instan segera terlaksana.
Sampai di sini kita mulai
bertanya-tanya, apakah pernikahan itu? Apakah sekadar memilih pasangan
hidup yang tampan dan cantik? Apakah sekedar pelarian untuk memuaskan
kebutuhan biologis? Apakah sekadar untuk mencari teman curhat permanen?
Atau sekadar cobacoba? Semua itu bisa dijawab kalau kita memiliki sebuah
visi yang jelas perihal pernikahan.
“Sebelum ke sana, pertama kita harus
pahami menikah adalah menyambung silaturahim dua keluarga besar,” kata
Ustadz Mohammad Sholeh Drehem. Menikah memang
bukan hanya bertemunya laki-laki dan perempuan. Menurut Ustadz Sholeh, sangat naif jika dalam pernikahan belum ada kesepakatan kedua belah pihak dalam artian keluarga besar. “Makanya harus ada musyawarah dahulu, libatkan semua pihak,” kata alumni Jurusan Ushul Fiqh Universitas Islam Madinah Arab Saudi ini.
bukan hanya bertemunya laki-laki dan perempuan. Menurut Ustadz Sholeh, sangat naif jika dalam pernikahan belum ada kesepakatan kedua belah pihak dalam artian keluarga besar. “Makanya harus ada musyawarah dahulu, libatkan semua pihak,” kata alumni Jurusan Ushul Fiqh Universitas Islam Madinah Arab Saudi ini.
Niat Baik pun Perlu Dikomunikasikan
Ketika seseorang telah siap untuk
menikah, maka bicarakan dengan orang tua. Walau bagaimana pun orang tua
adalah yang merawat dan membesarkan kita. Dalam hal ini, tidak semua
orangtua begitu saja sependapat. Hal ini wajar, karena orang tua selalu
memiliki pertimbangan dan standart tertentu. Maka tugas kita adalah
memahamkan orangtua. Memberikan bukti nyata bahwa kita memang sudah siap
untuk menikah.
Sebagai usatadz yang sering menjadi
rujukan konsultasi keluarga, Ustadz Muhammad Sholeh Drehem menemui
beraneka macam pengalaman tentang pernikahan, Ustad Sholeh menceritakan,
beberapa kali menemui kasus terhambatnya pernikahan karena tidak
lancarnya komunikasi. Menurut Ustadz Sholeh, pada dasarnya orangtua yang
baik tidak akan memaksakan kehendak. Kalaupun itu terjadi, maka tugas
seorang anak yang harus mewarnai orang tua. “Pahamkan pada orang tua
tentang pemahaman Islam yang menyeluruh,” kata bapak empat putra ini.
Jadi, komunikasi yang dimaksud bukan hanya ketika mau menikah, namun
komunikasi yang lancar sejak jauh sebelum waktu ingin menikah. “Orangtua
adalah ladang dakwah yang luar biasa, maka kewajiban seorang anak
ketika mulai mengenal nilai-nilai Islam sudah harus mendakwahkan pada
orang tuanya,” ujar pengasuh di berbagai kajian ini..
Proses komunikasi tentang niatan untuk
menikah memang tidak dapat sama antara yang satu dengan yang lain. Usaha
itu butuh waktu. Tidak bisa sehari ya satu bulan, tidak bisa satu bulan
yang mungkin beberapa bulan. “Butuh perbaikan diri memang. Dan
tunjukkan pada orang tua niat baik kita. Tidak ada yang instan dalam hal
menikah,” kata Ketua Ikatan Dai Indonesia Jawa Timur ini.
Ustadz Sholeh mewanti-wanti, jangan
sampai menikah tanpa mendapat restu dari orangtua. Betapa sakitnya orang
tua, yang melahirkan dan membesarkan, kemudian saat anak sudah dewasa
dan mandiri tidak melibatkan orang tua dalam proses pernikahan. “Ini
mengkhianati orang tua, menzalimi orang tua,” tegas suami Ustadzah
Maryam ini.
Persiapan Ilmu Tentang Pernikahan Banyak
orang yang bingung ketika menghadapi pernikahan. Ada yang sibuk
mempersiapkan pernakpernik pernikahan dan pesta pernikahan, tetapi lupa
mempersiapkan ilmu, mental dan spiritual dalam menjalaninya. Meskipun
setiap orang tahu bahwa pernikahan adalah ibadah, menggenapkan setengah
agama, tetapi karena kesibukan persiapan perlengkapan nikah dan pestanya
sering membuat nuansa ibadah dalam pernikahan tersebut terlupakan.
Ada beberapa persiapan yang perlu
dilakukan menjelang pernikahan, yaitu persiapan ilmu tentang pernikahan,
persiapan mental/psikologis dalam menghadapi pernikahan, persiapan
ruhiyyah menjelang pernikahan serta persiapan fisik sebelum menikah.
Hal yang perlu dipersiapkan adalah
memperjelas visi pernikahan. Untuk apa kita menikah. Visi yang jelas dan
juga sama antara calon suami dan isteri insya Allah akan melanggengkan
pernikahan. Banyak orang yang menikah hanya karena cinta, atau mengikuti
tradisi masyarakat. Bisa juga karena malu karena sudah cukup umur
tetapi masih belum juga menuju pelaminan. Alasan-alasan seperti ini
tidak memiliki akar yang jelas. Bisa juga menjadi sangat rapuh ketika
memasuki bahtera rumah tangga, dan akhirnya hancur ketika badai rumah
tangga datang menerjang.
Sebagai muslim yang memiliki rujukan
hidup yang jelas, tentu kita tahu bahwa menikah itu karena ibadah. Visi
pernikahan dalam Islam adalah menimba banyak pahala melalui aktivitas
berumah tangga. Menjauhkan diri dan keluarga dari api neraka, dan
akhirnya berusaha meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Bila
seseorang memiki
visi seperti ini insya Allah hari-hari yang dilaluinya setelah menikah akan berusaha dihadapi sesuai dengan hukumhukum Islam.
visi seperti ini insya Allah hari-hari yang dilaluinya setelah menikah akan berusaha dihadapi sesuai dengan hukumhukum Islam.
Ilmu yang lain yang harus diketahui
adalah tentang hukum-hukum pernikahan. Seperti tentang rukun nikah,
yaitu mempelai pria dan wanita, dua orang saksi, wali dari pihak
perempuan dan ijab kabul. Bila sudah terpenuhi semuanya, insya Allah
pernikahan menjadi sah secara agama.
Lalu kewajiban memberi mahar sesuai yang
diminta oleh pihak wanita. Lalu masalah walimatul ursy (pesta
pernikahan). Tradisi-tradisi daerah bukanlah hal yang wajib untuk
dilakukan. Bahkan sebisa mungkin dihindari tradisi yang bertentangan
dengan aqidah Islam. Lalu juga mempermudah semua proses pernikahan
adalah lebih utama. Juga menyederhanakan pesta pernikahan, tidak
bermewah-mewah lebih baik dalam pandangan Islam.
Persiapan Mental
Pernikahan adalah kehidupan baru yang
sangat jauh berbeda dari masa-masa sebelumnya. Dalam pernikahan
berkumpul dua pribadi yang berbeda yang berasal dari keluarga yang
memiliki kebiasaan yang berbeda. Didalamnya terbuka semua sifat-sifat
asli masing-masing. Mempersiapkan diri untuk berlapang dada menghadapi
segala kekurangan pasangan adalah hal yang mutlak diperlukan. Begitu
juga cara-cara mengkomunikasikan pikiran dan perasan kita dengan baik
kepada pasangan juga perlu diperhatikan, agar emosi negatif tidak
mewarnai rumah tangga kita.
Di dalam pernikahan juga diperlukan rasa
tanggung jawab untuk untuk memenuhi hak dan kewajiban masing-masing.
Sehingga setiap anggota keluarga tidak hanya menuntut hak-haknya saja,
tetapi berusaha untuk lebih dulu memenuhi kewajibannya.
Pernikahan merupakan perwujudan dari tim
kehidupan kita untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Oleh
karena itu kerja sama, saling mendukung dalam segala hal sangat
diperlukan. Termasuk dalam pendidikan anak. Pernikahan juga merupakan
sarana untuk terus menerus belajar tentang kehidupan. Ketika memasuki
dunia perkawinan seseorang belajar untuk menjadi bagian dari tim
kehidupan. Ketika memiliki anak seseorang belajar untuk mendidik anak
dengan cara yang baik. Tidak jarang juga orang tua perlu memaksa diri
untuk merubah kebiasaan-kebiasaan buruknya agar tidak ditiru oleh anak.
Ketika anak-anak menjelang dewasa orang tua belajar untuk menjadikan
anak-anaknya sebagai teman, sebagai bagian dari tim kehidupan yang aktif
menggerakkan roda kehidupan, dan seterusnya.
Langganan:
Postingan (Atom)